Selasa, 31 Maret 2009

Untung Kerakap di Lempung Pematung

Untung Kerakap di Lempung Pematung

Raja adalah sosok remaja belasan tahun yang tiada berpengharapan. Badan anak berdaun telinga lebar itu kurus kering. Ketika naked to the waist, terlihat bahu naik, tulang-tulang rusuk menonjol di permukaan kulit dada. Warga Myanmar ini segan makan, tak hendak mandi, dan berpantang berak. Sekali-sekala ia berak di celana. Berbicara pun dia tak suka. Diam seribu bahasa. Kalau pun makan, jarang ia mengambil sebanyak yang dijemput dengan jari untuk sekali suap. Ia juga hanya menelan dua tiga suap nasi putih tak berteman; tanpa sayur, tanpa lauk pauk; puasa mutih, orang Jawa bilang. Kadang-kadang Raja mengepal-ngepal nasi dan menyocolnya pada kuah sayur sebelum disuap agar tidak terlalu seret di kerongkongan ketika ditelan. Pada Raja, makanan lebih lama dikemut ketimbang dikunyah sehingga tak lembut-lembut. Berdikit-dikit Raja makan.

Yang juga membuatku tak habis pikir adalah anak ini tak mau diberi blanket lebih dari satu helai. Ketika tiduran, selimut tersebut ia jadikan tilam. Akan tetapi, ketika tidur sungguhan, selimut itu tetap berfungsi sebagai selimut; sedangkan antara badan dan lantai tiada pembatas. Ia ada dalam penjara karena kasus pelanggaran undang-undang keimigrasian. Sedangkan kehadirannya di Dewan-B adalah karena depresi. Telah berbulan ia ada di sini dan konon, menurut yang empunya cerita, hakim selalu menunda-nunda keputusan hukuman terhadapnya karena Raja tak pernah memberi respon ketika ditanya. Ketiadaan lawyer yang dapat menyuarakan kepentingannya membuat kasus Raja berlarut. Dari sudut pandang praktis, pendekatan pada sistem peradilan memerlukan jasa lawyer dan persiapan dana yang mencukupi untuk menutup ongkos perkara; dan Raja tidak sanggup menyediakan itu semua. Jika diberi opsi, sangat mungkin Raja malah lebih memilih hidup tenang di balik jeruji besi ketimbang pulang negara menyaksikan bangsanya sendiri merana sehari-hari tercabik dalam perang saudara.

Seorang rekan berkisah bahwa pada suatu masa persidangan, Raja sempat membuat geger seisi Mahkamah. Ketika dicecar pertanyaan oleh hakim, tak sepatah kata jua ia menjawab. Malahan karena takutnya, Raja terkencing-kencing di kotak terdakwa. Sipir mahkamah jadi sibuk mengepel dan membersihkannya. Setelah menjadi tahanan lama pun, Raja masih sempat mengecap pengalaman dirampok. Baju bagus lengan pendek yang dipakainya dirampas pada hari ketika ia sedang naik mahkamah. Bahkan tali kolor celananya dicopot oleh kawanan penyamun; sehingga ketika ia mengenakan celananya yang komprang di pinggang, dia betot bagian depan celana yang berlebih itu, diputar tiga-perempat lingkaran, untuk kemudian diselipkan ke dalam dan agak ke kanan – sebuah cara yang serupa dengan cara ketika orang mengawang sarung atau mengenakan kain samping. Betapa repot dia kulihat ketika harus membetulkan letak lipatan celananya agar tidak terus-menerus melorot. Sementara celana dalam tiada pula dia berpunya. Sedikit bimbingan dan bantuan tentu bermanfaat bagi Raja.

Adalah Combat – pesakitan asal Takengon, Aceh Tengah – dengan sabar mengopeni Raja. Aku pun akhirnya turut membantu mengurus anak ingusan ini. Kami paksa dia makan. Kami bujuk dia untuk mandi. Kami rajin mengingatkannya untuk berak. Jawabannya selalu sama “Tak mau!” Dan kami pun dengan suka hati mengajak dia untuk mencuci pakaian yang dikenakannya. Kami juga meminjaminya pakaian bila-bila masa pakaian dia basah dicuci. Selain “Tak mau!” satu-satunya kata lain yang kerap diucapkannya adalah “Assalamu ‘alaikum.” Ucapan salam khas Muslim itu hasil pengajaran dari Combat kepadanya.

Suatu saat, 4 malam 5 hb Juni 2007. Hanya karena aku tidak bersih mencuci celana Raja yang diberakinya, Combat memukul Raja. Apa pasal? Lenyap selera makan Combat; padahal dia sengaja menyimpan jatah makan petangnya untuk disantap malam hari. Tiba waktu makan yang telah direncanakan, di hidungnya terhidu bau tak sedap. Dia endus sana sini. Dan ditemukanlah punca aroma tak elok itu: pantat Raja. Kontan saja ia meradang; menuduh Raja tercirit lagi di celana. Combat menjadi begitu kecewa karena merasa bahwa kerja kerasnya selama ini dalam mendidik Raja seakan tidak berbuah; berujung pada kesia-siaan. Tetap saja, sang Raja buang air – besar dan kecil – sembarangan di celana. Klop sudah; bagai daun muda layu kering yang akan gugur, Raja ada dalam tubuh tanpa ruh. Ia hadir bagai kerakap tumbuh di batu; hidup segan mati tak mau. Malam itu juga Raja kumandikan dan kupinjami seluar (celana).

Combat sendiri adalah seorang pesakitan yang benar-benar sakit. Hari-harinya selalu dilewatkan dengan penderitaan. Kerap ia merintih kesakitan dan kedinginan manakala malam menjelang. Sebelah tungkai kakinya cacat permanen karena terjatuh dari lantai lima sebuah gedung bertingkat; ketika itu, ia tengah berusaha melarikan diri dari kejaran polisi yang menjebaknya. Satu lempeng pelat besi putih telah ditanam di dalam tubuhnya untuk menyangga femur – tulang paha – yang hancur-lebur berantakan. Tempurung lututnya remuk dan telah dibuang; dan tempatnya digantikan oleh baut dan mur logam besi. Tidak hanya sekali dua, dia menggamit tanganku dan membimbingku meraba-raba kakinya yang mengecil dan lѐmpѐr. Dengan tongkatnya, tertatih-tatih ia menatah tanah; di lain waktu, ngesot. Sekali dua, dia lompat-lompat seperti kangguru berkaki satu. Bila sedang berada dalam kesendirian, disapunya kaki kecil dan bekas-bekas luka yang menyertainya dengan pandangan sekeras dan sedingin es batu.

Meski demikian ia punya keyakinan bahwa suatu saat nanti kakinya akan pulih kembali seperti sedia kala setelah menjalani perawatan di salah satu dari sekian banyak bengkel patah tulang yang tersebar di antero Aceh dan Sumatera Utara. Tentu setelah ia keluar dari penjara. Keyakinannya begitu kuat hingga tak ada yang mampu mematahkannya. Sambil memijat-mijat pinggul, paha, lutut, betis, sampai ke ujung-ujung jari kaki, dia bilang bahwa kelak di bengkel tulang, tulang belulangnya yang cacat akan dihancurkan terlebih dahulu untuk kemudian dibentuk ulang, bagaikan cara kerja seniman tanah lempung dalam mencipta patung.

Combat adalah pesakitan yang disyaki telah menculik seorang perempuan muda usia. Adalah suami dari perempuan tersebut yang melaporkannya kepada pihak yang berwenang bahwa Combat telah menculik dan menyekap istrinya. Padahal, menurut pengakuan Combat kepada kami-kami, adalah perempuan rupawan bak gadis sampul itu sendiri yang telah datang menghampiri dan bertamu ke kediamannya untuk curhat berbagi cerita duka. Dan yang membuat nasibnya terkatung-katung adalah kenyataan bahwa suami dari perempuan tersebut tidak bersedia datang untuk bersaksi di Mahkamah. Karenanya, dalam setiap masa dia naik mahkamah, kasusnya selalu postponed – ditunda dan ditunda lagi.

* * *

RM 60 untuk Sekali Jumpa

RM 60 untuk Sekali Jumpa

Sudah merupakan sebuah pengetahuan umum di kalangan sipir bahwasanya sebagian orang kerja yang bertugas mengurus pencatatan lawatan menangguk peluang untuk kepentingan orang kerja itu sendiri. Bahkan tak segan mereka mencatut nama Tuan – sipir strata atas – untuk memperlancar aksinya. Sebaliknya, untuk melindungi kepentingan banduan yang baru mendapat lawatan, sipir pada checkpoint pintu masuk Blok Ehsan tidak memperbolehkan paket nasi dan lauk pauk dibawa serta ke checkpoint kembali terakhir atau ke sel. Banduan harus memakannya sampai habis. Setelah santapan habis, banduan baru diperbolehkan masuk kembali ke dalam selnya semula. Disamping untuk melindungi kepentingan banduan yang mendapat lawatan, tidak diperbolehkannya paket nasi dan lauk-pauk masuk ke dalam sel dimaksudkan untuk mencegah timbulnya kecemburuan sosial di kalangan komunitas orang tutupan.

Ketika datang menjenguk, Pinky memberitahuku batas maksimum belanja di Sg. Buloh RM 60 untuk satu kali besuk. “Pandai-pandailah. Usahakan barang-barang keperluan prioritas terbeli,” katanya sambil menambahkan bahwa pagu belanja di penjara Kajang sebesar RM 100. Dio di Kajang lebih leluasa memenuhi kebutuhannya ketimbang kami-kami yang berada di penjara Sg. Buloh. Bill dibayar oleh pelawat. Dalam pada itu, untuk kepraktisan dalam bertransaksi, pihak pengurusan koperasi pegawai penjara menyediakan senarai – daftar – berikut harga serbamacam barang-barang yang dapat dibeli. Dengan kemudahan tersebut, banduan cukup menyebutkan barang keperluan yang ditempah, dan orang kerja membubuhkan tanda periksa pada check list. Bila barang-barang yang dipesan melebihi batas maksimum RM 60, maka item bagian bawah senarai dicoret dari daftar belanja. Kamis tanggal 24 Mei 2007 aku belanja RM 54.xx. Satu minggu kemudian, 31 Mei 2007 ketika Pinky melawatku untuk yang kedua kalinya, aku lupa dengan batas belanja yang telah ditetapkan. Aku memesan banyak item barang; toh yang dikabulkan cuma beberapa sen lebih besar dari enampuluh ringgit. Ada beberapa item barang yang sebetulnya sangat kubutuhkan tidak dapat terbeli hanya karena berada pada urutan bawah dari daftar belanja. Berlainan halnya dengan Arman. Waktu itu ia cukup hati-hati dalam menentukan barang yang hendak dibeli sehingga ia dapat memenuhi permintaan seorang sipir yang ingin dibelikan es krim oleh kami.

Sewaktu aku kembali dari lawatan tanggal 24 Mei, sipir tidak memperbolehkanku membawa serta dua paket nasi – satu besek nasi sotong dan satu besek nasi goreng ayam – ke dalam sel. “Nasi tidak boleh dibawa ke bilik. Makan saja di sini sampai habis. Habiskan semua. Setelah habis, baru boleh masuk bilik,” berkata sipir penjaga tentang larangan yang tak boleh dilanggar. Nasi goreng ayam itu sejatinya akan kuserahkan kepada orang kerja. Itu, kata orang kerja, adalah pesanan Tuan. Akan tetapi aku tak berani mengabaikan perintah sipir. Tanpa cuci tangan terlebih dahulu, kusantap habis dua paket nasi sekaligus sampai marem; memuaskan kerinduanku pada makanan amat lezat bergizi tinggi selama aku berada dalam penjara. Dan ketika aku telah kembali masuk ke dalam lokap Dewan-B, lurah kami menanyakan pesanan orang kerja yang mengharapkan persenan dariku.

“Orang kerja tanya, ‘Mana nasi goreng dan kacang untuk Tuan?.’ Saya bilang, ‘Kacang ada. Tapi saya tak tahu tentang nasi gorengnya,’” lurah membuka topik pembicaraan.

“Saya sudah bawa nasi gorengnya. Bahkan saya juga membeli nasi sotong. Tapi cikgu di pos ronda sebelah sana memaksa saya untuk memakan kedua paket nasi tersebut. Tak dapat saya membantahnya,” menjelaskan aku tentang duduk perkara yang sebenarnya.

“Tak apa. No problem. Saya hanya ingin tahu,” lurah menanggapi.

Akan tetapi ketika Arman dan aku pulang lawatan tanggal 31 Mei, sipir memperkenankan paket nasi dan lauk-pauk untuk kami bawa serta ke dalam sel. Waktu itu aku membeli nasi goreng ayam.

* * *

Logistik

Logistik

Palang dada sepanjang sisi tembok selatan dan barat juga dijejali dengan barisan dan tumpukan gayung dan kole; penghuni menyelipkannya di sela-sela jeruji dan dari sebelah luar kaca tebal menghadang. Seorang penghuni rata-rata memiliki satu gayung dan satu kole. Akan tetapi, penghuni lama acap menguasai lebih dari itu; sedangkan di antara pendatang baru ada yang belum punya. Orang-orang yang disebutkan terakhir ini biasanya menunggu pemberian dari orang kerja atau mengharap belas kasih dari penghuni lama untuk berbagi.

Orang lama juga berperan aktif dalam pendistribusian penguasaan blanket – selimut. Jika nasib baik, setiap penghuni akan mendapat kain tebal warna biru atau hitam dengan tulisan Hak Kerajaan di sebuah sudutnya dari orang kerja sesaat sebelum dia masuk bergabung dengan Dewan-B. Tak jarang, banduan tidak mendapatkannya ketika masuk. Jika kasusnya demikian, orang lama – terutama banduan dari etnis dan/atau kewarganegaraan yang sama dengan banduan baru tersebut – mengupayakan bantuan darurat baginya untuk mendapatkan selimut.

Di Dewan-B, setiap banduan minimal menguasai satu helai blanket. Pukul rata, sebagian besar mempunyai dua helai. Ada juga yang punya tiga bahkan empat. Seorang banduan yang memiliki hanya satu helai blanket menggunakannya sebagai alas tidur. Jika ia memiliki dua, satu untuk alas tidur dan satu untuk selimut. Jika tiga, satu untuk alas, satu untuk selimut, dan satu lagi dilipat sedemikian rupa untuk difungsikan sebagai bantal alas kepala.

Sementara itu, yang memiliki kasur sungguhan ada empat orang. Mereka iaitu dua orang etnis India (“lurah” yang mengambil tempat di pojok timurlaut dan yang seorang lagi di sisi barat; keduanya 40an tahun), satu orang etnis Cina (60) di sisi selatan, dan satu orang Indonesia (Combat, sisi utara dan dekat sokoguru barat). Kasur yang disebutkan terakhir ini pernah dipakai oleh Mamat (25). Ketika Mamat naik mahkamah beberapa waktu sebelumnya, kepemilikan kasur itu berpindah tangan sebanyak tiga kali sebelum akhirnya jatuh ke tangan Combat (sekitar 28-30 th). Mamat sendiri kini tidak berkasur. Tilam itu telah robak-rabik. Supaya terlihat lebih bagus dan enak untuk ditiduri, Combat menyarunginya dengan blanket.

* * *

Piso inggris, silet, pisau cukur, razor blade; apapun namanya merupakan perkakas terlarang dalam penjara. Meski demikian, kami di Dewan B punya sebilah silet bermata tipis. Tajam dan serba guna. Seorang tahanan kerap menggunakannya untuk membentuk lidi sapu menjadi jarum jahit. Biting dilancipkan pada ujung depan dan disayat pada ujung belakangnya sebagai pengapit benang; agar benang dapat masuk terjepit. Sedangkan benangnya adalah serabut benang yang dicabut dari kain perca. Aktivitas jahit-menjahit, menambal, menyulam, dan menisik pakaian dan selimut koyak berlangsung cukup semarak. Sekali tempo kupinjam pisau cukur tersebut untuk membetulkan posisi perban yang membeliti sekujur tangan kiri Wiwin, seorang banduan asal Palembang. Kami juga punya sebatang peniti untuk membantu dalam berbagai keperluan penghuni.

Kuku menggunting kuku. Seorang penghuni lama mengingatkan bahwasanya berkuku panjang adalah sesuatu perkara yang terlarang dalam penjara Sungai Buloh. Beberapa penghuni lain pun mengamininya. Disiplin berkuku pendek dan besih selalu ditegakkan tanpa kecuali. Tanpa adanya peringatan pendahuluan, seorang sipir akan menghukum seseorang banduan hanya karena ia berkuku panjang. “Tak ada gunting kuku,” bukan merupakan jawaban yang dapat diterima oleh sipir penjara ketika memeriksa kebersihan kuku. Jangan pernah berharap bahwa sipir akan memahaminya. Karena tidak ada alat potong kuku yang memadai, dalam pelaksanaannya pekerjaan potong memotong kuku dilakukan ketika atau selepas banduan mandi. Caranya adalah kuku menyebit kuku. Kala itu, keadaan kuku lembek dan mudah terkoyak.

Rangsum makan dan minum dibagikan tiga kali sehari. Pagi: air hangat – seperti teh tarik – satu gayung mandi untuk lima orang tahanan; pada hari-hari tertentu mendapat tambahan bubur kacang hijau atau kanji (bubur beras). Ada dua jenis kanji (bubur beras murni dan bubur beras plus ikan bilis kecil). Hanya saja, penghuni lokap lantai 3 Blok Damai lebih sering mendapat air rebusan kacang hijau encer. Demikian pula halnya dengan kanji; lebih sering kami di blok Damai pada saat itu hanya mendapat rangsum air masin bau tengik tanpa nasi atau ikan.

Kecuali jika emosi ditafsirkan semata sebagai gejolak amarah yang meledak-ledak, keikutsertaan orang kerja dalam mendistribusikan rangsum kepada tahanan tergolong partisipasi tanpa emosi. Tanpa ekspresi mereka membagi-bagikan air rebusan kosong tak berisi untuk sarapan pagi.

Siang: nasi plus sayur dan lauk pauk. Sayur adalah sayur-mayur rebus nir-rasa seperti kangkung dan sejenisnya dan wortel; kuah diberikan tersendiri. Lauk pauk bervariasi dari hari ke hari. Masing-masing penghuni mendapat rangsum sepotong daging ayam lengkap dengan tulangnya atau sejumput cincang daging sapi tak bertulang atau ikan gembung satu dua ekor, tergantung ukuran dan ketersediaan. Daging ayam dan sapi direbus tanpa bumbu; demikian pula halnya dengan sayur-mayur, direbus. Sedangkan ikan gembung digoreng. Yang juga turut dibagikan secara teratur setiap waktu makan siang dan petang hari adalah kuah sayur lodeh atau kari. Karena berpantang mengkonsumsi daging sapi, tahanan etnis India mendapat daging ayam sebagai ganti. Ketika kami berada di Blok Tawekal, seorang Tuan etnis India bersorban khas Singh mengatakan bahwa perlakuan istimewa tersebut hanya diberikan keada India Malaysia; walau dalam prakteknya semua etnis India diperbolehkan memilih untuk mengkonsumsi daging sapi atau daging ayam menurut selera dan keyakinan. Disamping itu, tiap dua atau tiga hari, tahanan mendapat tambahan kentang rebus dan buah-buahan seperti sebiji pisang, sepotong semangka, honeydew (semangka madu), labu kuning rebus.

Petang: pada dasarnya menu petang hari sama dengan siang; perbedaannya terletak pada keragaman jenis belaka. Disamping itu, dua keping roti tawar beroles mentega plus sekeping roti rasa sebesar telur angsa dibagikan petang hari. Sebagian menyimpannya untuk kemudian dikonsumsi pagi hari berikutnya. Sering juga ada banduan yang kurang beruntung; mereka mendapatkan roti bantat kedaluarsa bau apak. Di luar kegunaan sebagai makanan, mentega punya banyak fungsi. Beberapa banduan memanfaatkan mentega sebagai lem perekat. Mentega juga berkhasiat sebagai bahan licin; sebagai minyak untuk mengurut. Disamping itu, mentega berfaedah sebagai lotion atau lulur yang mencerahkan penampilan dan warna kulit. Untuk air minum, semua orang tutupan di sini memanfaatkan air pipa mentah; kecuali untuk minum pagi hari.

Selain tiga waktu makan, penghuni kerap mengadakan acara makan minum sendiri dan berkelompok. Acara terselenggara berkat adanya lawatan keluarga. Ketika keluarga membesuk, tahanan berbelanja berbagai jenis kebutuhan hidup atas tanggungan pelawat. Tahanan yang mendapat lawatan selalu berbagi makanan dengan rekan-rekan terdekat atau kelompoknya; malahan, memberi penghuni yang berada di luar kelompok juga lazim terjadi. Aku termasuk cukup beruntung; kelompok-kelompok Melayu (Indonesia dan Malaysia), India, dan Bangladesh selalu memberiku makanan bilamana ada di antara mereka mendapat lawatan. Jamuan-jamuan khusus tersebut lebih sering dilakukan selepas Magrib dan ba’da Isya. Waktu itu, nuansa kekeluargaan kental terasa.

Biasanya kudapan berupa mie instan, bubuk kopi, bubuk susu, ketul gula semut, dan hablur gula putih diseduh dalam air dingin. Kecuali untuk bubuk susu yang mudah terlarut air, diperlukan waktu yang cukup panjang untuk menyeduh kudapan. Agar kudapan tercampur merata, seduhan diaduk-aduk, dikocok-kocok, dan terus-menerus dituangkan tinggi-tinggi dari dan ke dalam dua buah cangkir atau gayung di kedua belah tangan kiri dan kanan secara bergantian. Banyak tahanan yang berperilaku bagai gadis kecil; berpura-pura memasak – main masak-masakan – ketika menyeduh kudapan.

Di lokap Dewan-B, acara makan-makan di luar tiga waktu juga dapat terjadi karena orang kerja memberi rangsum dalam jumlah berlebih. Ketika senja hari orang kerja memberi catu berlebih, malam hari selepas Magrib atau ba’da Isya beberapa kelompok menyiapkan jamuan khusus makan bersama. Jamuan khusus juga diselenggarakan oleh kelompok-kelompok tertentu pada malam hari setelah ada tahanan yang mendapat lawatan keluarga di siang harinya.

Ketika seorang tahanan yang baru kembali dari lawatan membagi-bagi makanan, misalnya, banyak penghuni berkerubut mengantri menyongsong peluang untuk dapat mengudap walau hanya satu atau dua butir kacang arab (kacang atom, pilus); terlalu sedikit untuk pemuas selera. Syukur-syukur jika diri diberi segenggam. Tamba ngencés – lumayan buat obat penawar hasrat – agar di ambang sadar air liur tidak berketerusan mengalir di pinggir bibir. Mereka sangat-sangat merindukan makanan normal yang biasa dikonsumsi di dunia luar. Seteguk kopi encer dan dingin pun sangat mereka syukuri. Sebagai bentuk sportivitas di kalangan penghuni, peneguk terakhir biasanya langsung saja bersegera pergi ke kamar mandi untuk mencuci cangkir.

Dalam pada itu, tahanan yang belum jatuh hukum tidak mendapatkan catu untuk kebutuhan selain sarapan, makan siang, dan makan petang hari. Sementara itu narapidana yang telah jatuh hukum – berdasarkan penuturan sejumlah tahanan senior – dikunci dalam Blok Cekal yang bertempat di sebelah selatan dari Blok Ehsan. Mereka secara teratur mendapatkan tambahan jatah hidup seperti gula, kopi, susu, sabun, sikat dan pasta gigi, serta pakaian yang dibagikan beberapa bulan satu kali. Daging ayam untuk konsumsi mereka juga, katanya, ayam kodok; daging ayam tanpa tulang.

Letak lokap Dewan-B di Blok Ehsan cukup strategis; berada di pintu masuk koridor. Setiap banduan blok Ehsan yang mendapat lawatan keluarga pasti melewati koridor depan pintu Dewan-B. Sehingga penghuninya relatif lebih mudah dalam menghimpun bantuan. Beberapa penghuni lokap Dewan-B secara demonstratif teriak-teriak dan menadahkan tangan; ngebet meminta-minta pada setiap banduan yang baru saja mendapat lawatan keluarga. Kegigihan mereka ngécék – meminta-minta dengan memelas – untuk mendapatkan bantuan seperti itu dapat dianalogikan sebagai hasrat dari seorang perempuan hamil muda yang tengah mengidam. Bermuka tebal ia akan marah-marah kalau tak dibagi. Sudah barang tentu, hal ini mempermalukan penghuni lain dalam lokap. Bak primata di taman margasatwa. Mereka teriak-teriak dan secara demonstatif mengulurkan dan menadahkan tangan kepada setiap primata lain yang berlalu lalang mencangking bekalan makanan; merendahkan diri untuk dikasihani.

Meski demikian, usaha mereka kerap membuahkan hasil. Dari dalam kantong keresek warna kuning pucat, banduan yang mendapat lawatan memberi makanan, terutama mie instan, dan barang-barang keperluan lain. Karena kasihan. Maklum, lokap Dewan-B adalah sel khusus yang diperuntukkan bagi orang sakit dan banyak orang cacat di dalamnya; kondisi fisik yang tampak tidak berdaya diharapkan dapat menerbitkan kemurahan hati dan perasaan suka memberi pertolongan dari orang-orang budiman. Atau boleh jadi mereka memberi lebih karena merasa risih dan gentar terus menerus diteriaki, “Bang … Bang … Bang” atau tegur sapa khas Bangladesh “Baya … Baya … Baya.”

Demikian pula terhadap orang kerja yang usai menunaikan tugas membagi-bagi catu makanan. Patah sayap, bertongkat paruh; tidak putus-putusnya mereka berusaha menyampaikan maksud. Setiap yang lewat dicegat sepencapai tangan menjulur. Mereka secara agresif teriak-teriak minta teh tarik, remah roti dan biskuit remuk yang masih menempel pada plastik bekas pembungkus, nasi, tengkorak ikan dan lauk pauk sisa lainnya.

Adalah seorang tahanan etnis Cina usia empat puluh lima dan bertubuh – maaf – bungkuk dengan punuk di punggung bilang kepadaku bahwa dalam pekerjaan apa pun selalu ada resiko masuk ke kandang besi; tidaklah perlu aku bersedih hati. Jika takut dirimbas ombak, jangan berumah di tepi pantai. Tiada henti bapak ayam – mucikari – tengah baya itu memberiku petuah untuk rela dijadikan tumbal oleh perusahaan dengan syarat, “Bilang sama orang kantor dan boss untuk memperhatikan keperluan makanmu selama dalam penjara.” Ia mengusulkan persediaan susu dan mie harus diutamakan dan kalau boleh tiada pernah terhenti. Saran seperti itu justru membuat perasaanku jengkel dan perih tiada tara; karena dia mengutarakannya ketika belum ada seseorang juga dari perusahaan kami yang datang membesuk sejak hari pertama aku masuk meringkuk di penjara Sungai Buloh.

* * *

Walaupun berada pada posisi terdepan, lokap Dewan-B merupakan sel terakhir yang mendapat pelayanan catu makan. Alhasil, penghuninya pun menyantap makanan paling akhir. Karena terakhir itulah, makanan biasanya tersedia dalam jumlah cukup berlimpah, meski dengan kualitas terendah. Orang kerja pun berbaik hati bersedekah memberi lebih. Sebagai contoh, di saat penghuni sel-sel lain di Blok Ehsan mendapat dua ekor ikan goreng, penghuni lokap Dewan-B mendapat lebih dari itu; empat sampai tujuh ekor! Daripada dibuang sayang, sisa-sisa makanan diedarkan sampai habis begitu saja kepada penghuni lokap Dewan-B. Begitu berlimpahnya rangsum ikan sehingga kerap para penghuni tidak dapat menghabiskannya sekaligus di waktu makan senja. Secara berkelompok sebagian penghuni lantas menambul sisa-sisa ikan sebagai teman minum di malam hari.

Begitu juga, kualitas kuah sayur untuk penghuni Dewan-B yang merupakan kuah sisa; sangat buruk dan tidak layak untuk dikonsumsi karena berpasir. Bak balam penikmat biji-bijian, aku kerap harus menelan pasir dan bebatuan kecil dari kuah sayur yang telah bercampur aduk dalam nasi. Makanan itu sangat membebani sistem pencernaan karena aku memang bukan burung pemakan padi-padian utuh. Sebetulnya, kejadian serupa bisa saja dihindari dengan mudah asalkan aku berhati-hati. Sewaktu orang kerja membagikan kuah, banduan dapat meminta orang kerja untuk tidak menuangkannya ke atas nasi, tapi pada cekukan yang ada di sebelahnya. Toh aku sering lupa. Akhirnya kejadian serupa selalu berulang. Tanpa siraman kuah sebagai biang rasa, semua masakan tak berbumbu itu selain seret di leher juga akan terasa teramat cemplang di lidah.

Nasi rangsum yang dibagikan seringkali masih berupa nasi detus (nasi yang belum tanak betul). Demikian juga halnya dengan ikan goreng dengan mutunya yang inferior. Ikan gembung basah yang sudah tidak lagi segar, tidak dicuci bersih. Digoreng setengah matang lalu diangkat dari kuali dengan penanganan yang kurang hati-hati sehingga banyak kepala terlepas dari badan dengan duri berserabutan. Jika dikonsumsi, gatal di tenggorokan; kurang lebih seperti tertelan miang jelatang kurasa selagi berulam daun kemangi dan pucuk sintrong. Kadang-kadang aku juga pancingan dibuatnya. Dapat dipastikan, selepas makan ikan goreng petang hari, tiada lagi keheningan sepanjang malam. Ledakan-ledakan suara batuk kambing dan bersin kuda memberondong sahut menyahut seumpama letupan-letupan mercon menjetis yang mengiringi kirab barongsai pada perayaan hari besar Cheng Beng (Bersih Terang) di bulan ketiga tarikh Imlek. Karena alergi, beberapa jam setelah ikan gembung goreng aku séntap, belahan kiri bibir atasku jeding bak disengat lebah. Kejadian itu beberapa kali kualami. Karena makan ikan pula suaraku terkadang jadi serak dan kerongkongan perih dan sakit ketika berbicara.

Berita baiknya: semua makanan tersaji dalam keadaan bebas rambut. Tak sekali pun aku mendapati helai rambut pada nasi, sayur, maupun lauk pauk. Itu dikarenakan setiap juru masak dan pendistribusi makanan semuanya lelaki berambut cepak.

Secara umum, menu memenuhi standar gizi untuk survive; terbukti orang kerja yang mayoritas terdiri dari orang lama memiliki tubuh yang berisi dan sehat. Tapi tak mengindahkan kaidah kesehatan dan tentu pula tak ada tempat bagi estetika. Tepuk dada, tahan selera. Mayoritas banduan juga tidak peduli dengan norma-norma kesehatan. Makanan dan kudapan yang sewaktu dibagikan terjatuh ke lantai kotor berkuman pun dilélés – dipungut. Dalam pada itu, lama aku merenung. Ada apa denganku? Pasti ada yang salah. Mengapa kian hari kian lahap dan nikmat rasanya aku makan di penjara. Bahkan lauk pauk jatah Raja namun tak disentuhnya pun ditanggung ludes; kubabat, kugiling, kulumat, dan kutelan habis tak bersisa. Aku tak tahu apa yang telah merasukiku. Makan aku sampai penuh sehingga berasa sesak di perut. Ya Allah! Inikah yang disebut sebagai adaptasi sempurna terhadap lingkungan baru?

* * *

“Satu, makanan. Dua, tembakau. Dua perkara ini dapat memicu perkelahian dan pertumpahan darah. Salah-salah, nyawa bisa melayang. Berhati-hatilah,” ujar Jaya Raj lelaki India bergoreskan rajah Liza & Kaml pada pangkal lengan kanannya. Pesan Jaya Raj lugas menjelaskan betapa tembakau telah menjadi semacam komoditas yang diminati dalam penjara, selain karbohidrat dan protein tentunya. Kecakapan Anda sangat tergantung pada sejauh mana Anda mampu untuk menguasai tembakau. Tembakau adalah besi berani yang memikat. Pesonanya tak tertandingi. Bagai dalam permainan ceki, tembakau adalah wild card – kartu joker – yang dapat digunakan untuk tujuan apa saja. Memiliki tembakau berarti raja. Penghuni lainnya menghamba. Tak sedikit yang menjilat. Karenanya, Anda terpaksa melakukan apa saja; termasuk mengesampingkan suara nurani Anda. Pada umumnya, jalan masuk tembakau ke dalam penjara Sungai Buloh adalah melalui lambung para banduan yang baru pulang dari naik mahkamah. Ada juga tahanan yang menempuh jalan lain.

Seorang tahanan cacat kaki, misalnya, menyelundupkan tembakau dalam jumlah yang sangat signifikan disela-sela lipatan perban pembalut pekung – luka kudis – di kaki yang membebat rapat dari ujung-ujung jari kaki sampai lutut. Keberaniannya yang luar biasa nekat itu sangat mencengangkan. Membawa tembakau masuk serta ke dalam penjara itu sama bahayanya dengan membawa sesuatu pesan rahasia melintasi wilayah dan garis pertahanan musuh dalam keadaan perang. Menyelundupkan tembakau dan obat-obatan terlarang ke dalam penjara adalah sebuah pelanggaran berat yang diatur dalam udang-undang penjara; berat hukumannya. Berkah bagi dia, ada penghianat musuh dalam lokap mahkamah yang agresif berniaga tembakau. Beruntung pula nasibnya karena dua orang petugas pemeriksa barang-barang bawaan menjadi lengah dan terkecoh oleh penampilan wajah sendunya ketika berpura-pura menahan rasa sakit tak terperikan.

Karena faham bahwa sakit dan sedih secara alamiah bersifat menular, maka tahanan itu secara profesional mampu mendatangkan keuntungan yang lebih besar bagi dirinya – menggunakan penyakit sebagai jalan untuk membuat cikgu percaya dan merasa iba kepadanya. Itulah salah satu dari sekian banyak keunggulan seseorang yang punya pengetahuan secara mencukupi dan keberanian secara memadai untuk mengambil resiko dalam banyak situasi sekalipun di masa-masa paling rentan dalam kehidupannya. Seandainya petugas pemeriksa barang bawaan memerintahkan penjahat berkudis tersebut untuk membuka perban pembalut kakinya, niscaya mereka akan menemukan berketul-ketul tembakau terselip di tengah-tengahnya.

Dalam beberapa kesempatan, tahanan membarter tembakau dengan roti, gula, susu, kopi, vitamin dan obat-obatan medis. Sekali masa ada juga cikgu berbaik hati memberi puntung atau bahkan sigaret utuh kepada banduan yang dikenalnya dengan baik; secara sembunyi-sembunyi. Jika Anda punya tembakau, apapun yang Anda butuhkan dan inginkan dalam penjara akan segera terpenuhi; karena banyak orang bersedia berbakti untuk Anda. Jika tak punya tembakau tapi menginginkannya, Anda masih punya peluang untuk mendapatkannya. Salah satu cara yang juga lazim dilakoni adalah mengumpulkan obat-obatan medis. Caranya? Ikut rawatan medis. Pulang dari rawatan, sisihkan beberapa tablet dan kaplet, kumpulkan bersama beberapa rekan satu nasib dan satu kepentingan. Kemudian, mintalah bantuan orang kerja untuk menjadi perantara dalam negosiasi barter obat-obatan medis dengan tembakau antar sel dan lokap. Bila tak ada orang kerja tetapi Anda tetap ingin melakukan transaksi dengan sel-sel tetangga, gunakanlah bandring (pengumban tali). Sebagai talinya, nyunyut (tarik-tarik) dan pilinlah plastik bekas pembungkus roti dan sambung-sambunglah sepanjang yang diperlukan. Kemudian, ikatkan seketul batu pada ujungnya sebagai pemberat agar bandring lebih mudah dikendalikan. Di sebuah lokap lantai tiga Blok Damai, batu untuk pemberat mereka dapat dengan mencongkel muka lantai yang rusak. Gunakanlah bandring tersebut sebagai alat bantu yang menghubungkan ketika Anda bertransaksi tembakau dan obat-obatan dengan tahanan-tahanan yang berada di sel-sel tetangga.

Kulit kayu manis bekas bumbu kuah sayur termasuk salah satu pusaka bermutu yang dicari dan diserbu oleh pecandu; dikerik atau dicincang tipis kecil-kecil selagi masih basah, dijemur, dan dijadikan bahan rokok pengganti tembakau. Bila ada, daun salam dan batang serai pun oke; rimpang lengkuas, jahe dan kunyit juga berguna sebagai substitusi daun tembakau. Apalagi buah pala dan bunga cengkeh; terlalu seksi untuk diabaikan. Tiada rotan, akar pun jadi. Dari orang kerja, Combat menerima sepotong kulit kayu manis sepanjang dua buku jari telunjuk. Ditimang-timang untuk menaksir bobotnya. Diciumi bak kekasih. Dielus-elus. Setiap sudut dan lekuk diamati.

* * *

Kebutuhan penghuni akan air selalu terpenuhi lebih dari sekedar kata cukup; karena di kamar mandi air pipa menggelontor deras dan siap digunakan untuk berbagai keperluan. Akan tetapi ada juga masanya ketika pasokan air terhenti selama dua hari berturut. Akibatnya kami mengalami keterbatasan air yang kronis. Agar air tidak kosong sama sekali, pihak pengurusan penjara memberi jatah dua ember @ empat puluh liter sehari untuk satu lokap dan penghuni harus mengambilnya sendiri dari bak besar penampungan air. Untuk Blok Ehsan, bak besar air itu berada di dekat sayap utara. Buruknya persediaan air memaksa penghuni memberlakukan aturan yang sangat ketat dalam penggunaannya. Waktu itu adalah waktu pertama kali dalam hidupku aku belajar bersuci mengambil air sembahyang dengan hanya menghabiskan air kurang dari satu kole; ternyata cukup dan aku berhasil. Selama dua hari itu tak ada penghuni yang mandi. Ketiadaan air dalam kurun sesingkat itu telah menyebabkan kualitas sanitasi jatuh. Air seni di toilet tidak disiram sebagaimana mestinya sehingga pesing menusuk. Sengatan tinja dan urin yang menguap tercium tajam membuat sulit bagi kami penghuni sel untuk bernapas.

* * *

Nasib, takdir, keberuntungan – spiritual orang tahanan

Nasib, takdir, keberuntungan – spiritual orang tahanan

Ketika berbicara tentang tindak kejahatan, terdapat perbedaan yang cukup mencolok antara orang baru dan orang lama. Orang baru cenderung merasa diri tidak bersalah dan memperkecil makna perannya dalam perkara yang mengakibatkannya terjerembab dalam penjara. Bahkan, sebagian besar manusia tutupan baru meyakini bahwa adalah fitnah dan orang yang salah di tempat yang salah dan waktu yang salah berperan besar dalam membukakan pintu masuk penjara untuknya. Di ujung spektrum yang lain, orang lama cenderung bangga dan melebih-lebihkan peran yang dilakoninya. Selain itu, penjara bagi residivis adalah kawah candradimuka; tempat kursus pertahanan dan ketahanan diri, mengasah sangkur mempertajam visi, mengevaluasi misi, memperdalam ilmu tentang taktik dan strategi, dan, tak lupa, ajang memperluas jaringan. Mengembangkan sayap, memperluas lingkup pengaruh, mencari kawan sepenanggungan, merekrut pengikut dan hulubalang, menggalang pertemanan melalui brainstorming – curah pandangan, menerawang tujuan dan sasaran ke depan.

Akan tetapi di sisi lain, adalah manusiawi bila insan terungku punya rasa takut. Karena meski berada dalam lingkungan dan situasi luar biasa, toh mereka adalah manusia biasa. Rasa takut itu pula yang menandai bahwa baik itu orang baru maupun orang lama punya banyak persamaan. Sebuah persamaan generik yang cukup mencolok adalah ketika mereka bicara soal kemungkinan berat atau ringan hukuman yang akan diterima. Baik orang baru maupun orang lama (residivis) sama-sama mengakui perannya kecil dalam tindak kejahatan yang dilakukan, sehingga berharap kelak hukuman yang diterimanya ringan. Dalam pada itu, kepercayaan yang kuat akan nasib dan takdir membuat mereka berharap keberuntungan selalu menyertai. Keberuntungan dinanti terutama ketika hakim mengambil keputusan. Mereka selalu berharap agar hakim berbaik hati dengan menjatuhkan hukuman bebas atau hukuman yang seringan-ringannya.

Satu hal yang boleh jadi terdengar konyol adalah bahwa pada hampir setiap kesempatan orang-orang tahanan kerap saling nasehat-menasehati satu dengan yang lainnya untuk mengakui apa pun yang didakwakan oleh jaksa. Dalam banyak kasus, pengalaman menunjukkan bahwa pengakuan seseorang banduan terhadap tuduhan yang dibidikkan oleh jaksa selalu mempermudah proses peradilan terhadapnya; terlepas dari apakah perbuatan itu benar-benar dilakukannya baik secara langsung atau tidak langsung, sengaja atau tidak sengaja, sadar atau tidak. “Jika tidak mengaku,” kata mereka, “postponed.” Penundaan sidang bisa berlangsung berkali-kali dalam kurun berbulan-bulan, bahkan boleh jadi menunggu hitungan tahun. Sebaliknya jika banduan mengaku, hakim akan segera mengambil keputusan. Ketika itulah keberuntungan sangat mereka nantikan.

* * *

Countdowns to Freedom; Nasib Menggantung

Countdowns to Freedom; Nasib Menggantung

Sejak pertemuan terakhirku dengan Pinky dan Jane di bilik lawatan Kamis tanggal 31 Mei 2007, aku tak dapat menyembunyikan rasa gelisah. Bimbang hati aku dalam meyakini kebenaran berita yang pernah kudengar dari orang kantor; berharap Pinky tidak salah ketika memberi informasi bahwa boss akan menjamin kami berlima. Kuharap ia serius dengan ucapannya. Mudah-mudahan itu bukan sebuah pujuk empenak; membujuk dengan kata-kata manis sekedar untuk menyenangkan hati.

Dan karena denyut harapan untuk menghirup udara bebas begitu menggebu, sampai-sampai pikiran dan hatiku menjadi linglung; tak pernah mau diam. Taksiran jam demi jam perjalanan waktu menuju gerbang kebebasan pun tak lepas kuhitung dalam hati. Enam hari menjelang 6 Juni, misalnya, aku berucap, “Seratus empat puluh empat.” Senja harinya kembali aku berhitung, “Seratus empat puluh.” Kemudian, “Seratus tigapuluh dua.” Demikianlah seterusnya hitungan mundur kulakukan. Pokoknya, enam hari sampai satu hari menjelang tanggal 6 Juni 2007, tiada henti-hentinya aku berhitung; jari jemari di tangan dan kakiku juga turut dibuat sibuk karena hitungan gaya orang gemblung itu. Betapa semakin rajin aku menghitung semakin berat aku rasa ketika melewati waktu yang seolah-olah berjalan semakin lambat saja. Padahal, sesuai petunjuk seorang rekan dari Blok Damai sebelumnya, manteng memikirkan hanya rangsum makan terbukti sangat membantu meringankan perasaan dalam melewatkan hari-hari dalam kurungan.

Ternyata bukan hanya aku saja yang terus menerus menghitung mundur waktu naik mahkamah itu. Teman-teman di lokap Dewan-B pun diam-diam memperhatikan. Dari lurah, Kancil, Khaerul, Azhar, sampai Combat dan Mamat semuanya menghitung sisa hariku di penjara Sungai Buloh.

“Tiga hari lagi Uwak keluar dari sini,” berkata Combat padaku, membuka pembicaraan. Yang dia maksud uwak adalah aku.

“Empat hari,” kataku membetulkan.

“Tigalah. Tiga hari lagi Uwak keluar dari sini. Kemudian tumpang satu hari.”

“Ya, tapi kan tetap empat hari dari Sungai Buloh,” aku berargumentasi.

“Bebas, Wak?

“Tak tahulah. Orang kantor bilang kami mau dijamin.”

“Berapa uang jaminan?”

“Enggak tahu aku.”

“Aku yakin Uwak pasti bebas,”

“Doakan ya aku bebas.”

“Tentu, Wak. Tapi, jika tak ada Uwak, sunyi rasanya kami di sini. Tak ada orang tua,” berkata Combat seakan tak rela kutinggal. Salah satu perkara yang paling menyedihkan dalam kehidupan anak manusia adalah ketika berpisah dengan seorang sahabat. Kemudian, “Ada satu bulan Uwak di sini?”

“Tigapuluh tiga hari. Empatpuluh hari kalau yang di lokap balai polis ditambahkan,”

“Selama kita di sini, satu hari serasa lama. Tapi setelah Uwak nanti ada di luar,” ia menerawang, “satu bulan dalam penjara akan terasa sangat singkat. Dan Uwak pun akan segera melupakan penjara Sungai Buloh, termasuk kami semua yang ada di dalam sini.”

“Tentu aku tak mau mengingat-ingat Sungai Buloh,” kataku menanggapi komentarnya. “Terlalu pahit untuk diingat. Penjara membuatku letih dan payah lahir batin.”

“Kalau uwak bebas nanti,” berpesan ia kepadaku, “tolong kasih tahu keluargaku di Takengon.”

“Di mana?” aku bertanya.

Bersegera Combat menunjukkan kepadaku secarik karton manila (kertas tebal) ukuran 4 X 15,5 cm dengan satu sisi panjangnya keropes cuil-cuil tidak rata karena bekas sobekan kasar. Kertas itu telah ia persiapkan sebelumnya. Di atasnya tertulis tangan tiga nama dengan dua alamat dan dua buah nomor telepon – satu telepon rumah dan satu lagi telepon jinjing. Dua nama dengan satu alamat dan satu nomor telepon rumah yang dapat dihubungi adalah: Kamaruddin dan Rusudi penduduk Jl. Takengon Sp. Angkop Ds. Uning Kec. Pegasing Kab. Aceh Tengah – Takengon; nomor telepon 0643-221XX. Yang pertama jualan mie dan yang kedua jualan nasik. Mereka berdua adalah saudara tua seibu-sebapak dengan Combat. Sedangkan, “Nomor ini nomor telepon tetangga depan rumah,” imbuh Combat. Di atas manila bergaris itu pun tertulis “Dari Husni alias Combat.”

Nama ketiga yang juga harus kuhubungi sekeluarku dari penjara adalah seorang anak dara asal Langsa, Sely Hidayani; alamatnya tidak begitu jelas bagiku. Sebagaimana tertulis pada kertas, Combat menerangkan kepadaku bahwa perempuan itu mahasiswi sebuah akademi kebidanan di Medan dan tinggal di Binjai; dengan nomor kontak 08136243XXX.

“Khabar apa yang harus kusampaikan? Semuanya dan apa adanya?” kutitir dia dengan dua pertanyaan sekaligus; membuat dia berpikir sejenak sebelum menjawab.

“Ada rencana Uwak ke Aceh, enggak?” balik ia bertanya.

“Insya Allah, jika rencana tidak berubah, aku mau ke Takengon. Ada kawanku di sana.”

“Sama abangku Kamarudin dan Rusudi, bolehlah Uwak ceritakan apa adanya tentang aku.”

“Juga kuceritakan kalau Combat patah kaki sebelah?”

“Ya, ceritakan saja keadaanku apa adanya. Tapi jangan sampai ibuku dengar. Ibuku jantungan. Sudah cukup aku menyusahkan orangtua dan keluarga. Aku tak mau ibuku menjadi lebih menderita. Pandai-pandailah Uwak cari masa ketika bercerita tentang aku di sana nanti,” ia berkata dengan mata berkaca-kaca. “Tapi mengenai kasusku ……,” bimbang tergambar pada wajahnya, “katakan saja kalau aku didakwa jual-beli ganja,” berkata dia dengan suara berat. “Jangan katakan aku disyaki telah menculik.” Aku mengangguk. Ternyata ia merasa lebih terhormat disangka sebagai pengedar ganja ketimbang menculik. “Sedangkan untuk Sely di Binjai, katakan aku tengah mengemban misi khusus di Myanmar. Jangan bilang aku di penjara.”

“Tak ada lagi?”

“Oh, ya, sama Sely jangan Uwak bilang aku Combat atau Husni. Tak kenal dia. Bilang saja dari Andry. Salam dari Andry.”

“Andry?”

“Andry. Setahu Sely, aku Andry.”

“Kalau masih mau tinggal di sini, harus bawa uang,” berpesan Mamat kepadaku.

“Siapa yang betah di penjara? Enggak ada yang kerasan,” aku menjawab, dan, “Aku mau bebas. Boss mau jamin. Tergantung nasib lah,” kataku lagi, pasrah. Kalaulah ada untung di badan bolehlah aku bebas beberapa hari lagi.

“Nanti jika Hakim tanya, ‘Mau tetap bekerja di Malaysia atau pulang ke Indonesia?’ jawab saja, ‘Mau kerja.’”

“Kalau dijawab ingin pulang ke Indonesia?”

“Kalau kau jawab kau mau pulang ke Indonesia, nanti paspormu digunting; dan kau tak dapat datang lagi ke Malaysia sampai kapan pun.”

“Kok begitu?” bertanya aku karena penasaran.

“Memang seperti itu. Banyak kawanku yang menjawab “mau pulang” juga paspornya digunting.”

“Paspor digunting?”

“Lembar permit kerja yang digunting Mahkamah.”

“Begitu?”

“He eh”

“Tapi aku mau pulang dulu.”

“Gampang. Kalau sudah di luar mahkamah, kau tinggal bilang sama toke kalau kau mau cuti. Jangan pula bilang kau mau berhenti.”

“Oke,” aku menjawab; hatiku pun mulai meraba-raba jawaban jika hakim kelak betul-betul mengajukan pertanyaan serupa. Sebagai ancang-ancang, jawaban yang kucanangkan adalah, Seandainya Puan Hakim yang arif memperkenankan, saya akan tetap bekerja karena saya punya keluarga yang harus saya cukupkan nafkahnya.

“Kalau nanti kau bebas,” berkata Mamat, “tolong hubungi nomor ini,” sembari menyodorkan secarik kertas bertuliskan nomor 085232720xxx dan tiga nama; sebuah namanya sendiri dan dua lainnya adalah Suhni dan Marnip.

“Apa yang harus aku bilang?” bertanya aku pada Mamat.

“Bilang saja aku masuk penjara lagi di Malaysia. Sekarang ada di penjara Sungai Buloh, Selangor.”

Sementara itu, setamat urusanku dengan Combat dan Mamat, Azhar datang menghampiri. Ia minta secarik kertas dan pinjam pulpen. Kuberi dia sesobek kertas dan kupinjamkan pulpen Combat kepadanya. Lantas, kedua alat tulis itu ia gunakan. Usai menulis, ia serahkan kertas itu padaku. Kubaca isinya 012-62617xx, Azhar/As, No. xxxB Jln SS xA/xx, Sg. Way 473xx, Pl Jaya Selangor.

“Saya mesti kontak nombor ini?” aku bertanya kepada Azhar.

“Tak. Tak sekarang,” menjawab Azhar.

“Jadi, apa maksudnya?”

“Itu nombor talian saye. Nanti Uwak telepon nombor ini sekira bulan Mac tahun depan. Saye percaya Mac 2008 saye sudah bebas.”

“Kalau ini nama siapa?”

“Azhar itu saye. As perempuan saye.”

“Oke,” aku menjawab. Tiada dia kutanya apakah perempuan yang dia maksudkan itu istri atau kekasih.

* * *

Kelakar si Pencuri Periuk

Kelakar si Pencuri Periuk

Peter, seorang banduan etnis India, kerap menjadi bahan tertawaan dan olok-olok beberapa banduan. Sebetulnya, aku tak tahu persis mengenai kasus kriminal yang membelitnya. Tapi dengarlah penuturan seorang banduan lain tentang Peter. Alkisah ini didedahkannya justru di depan mata Peter.

“Di sebuah medan selera suatu pagi,” demikian ia memulai ceriteranya, “tersebutlah seorang juru masak tengah sibuk menyiapkan hidangan untuk jualan pagi itu. Sayur, daging, ikan, dan udang telah masak. Beberapa langganan setia telah mulai berdatangan. Semua lauk pauk telah dihidangkan. Akan tetapi, betapa terkejut juru tanak bangsa Cina itu demi mendapatkan periuk nasi berikut isinya telah lenyap dari tempatnya. Dia tanya sana sini, tak ada yang tahu. Hebohlah restoran itu. Periuk hilang! Kehebohan di kedai nasi membuat orang-orang yang berlalu lalang menyempatkan diri untuk merubung. Nah, salah seorang dari mereka, seorang penyapu jalan, memberi tahu khalayak yang ramai berkerumun bahwa belum lama berselang ia melihat seseorang menjinjing sebuah periuk dengan tergesa-gesa ke arah tasik dekat sana. Tanpa buang masa, sang koki – diiringi oleh beberapa orang penduduk dan pelanggan – segera bergegas mengayunkan langkah panjang untuk memburu si pencuri periuk ke arah kawasan air yang dimaksud. Benar saja, sesampai mereka di tepi danau, mereka tercengang demi melihat seseorang berbadan kecil sedang melahap nasi yang disudu langsung dari periuk pusaka. Marahlah mereka; digibal – dihajar – merekalah pencuri periuk itu. Nah, orang itu – si pencuri periuk – adalah Peter,” tutupnya sambil terkekeh.

“Bohong itu!” kata Peter kesal, namun ada garis senyum menghias bibirnya.

“Kalau kalian tak percaya,” potong si penutur cerita membela diri, “tanyalah Mahmud.” Kemudian dia arahkan pandangannya dan bertanya kepada seorang tahanan etnis India umur empatpuluh tiga bertubuh gemuk dengan postur kecebong. “Mahmud, coba kau ceritakan, apa kes Peter?”

“Curi periuk,” jawab Mahmud terkekeh.

“Kau dengarlah, Mahmud pun bilang kau curi periuk, hah! Apa perlu kutanya yang lain?”

“Bohong!”

“Kalian bayangkan lah. Bagaimana tak kesal hati koki Cina itu. Lauk pauk sudah siap, tahu-tahu periuk nasinya hilang. Marahlah orang yang mau makan.”

“Bohong! Jangan kalian dengar dia.”

“Mau bukti yang lain? Lihatlah Peter. Kepalanya jadi besar karena habis dipukul ramai-ramai, hah!”

Sampai di sini Peter tak dapat mematahkan olok-olok terhadap dirinya. Namun tak urung, ia memberi penjelasan. “Kepala saya seperti ini sejak dari lahir,” katanya sambil mengelus-elus kepalanya yang membusung seperti hydrocephalus; nonong berat-ke-depan dan relatif lebih besar secara tidak proporsinal terhadap batang tubuh dan anggota badan lainnya. Bekas-bekas luka meninggalkan pitak tak-berambut di beberapa bagian. Kakinya pun pitut sehingga ia gempor ketika berjalan. Tiada pernah permukaan tanah rata untuknya beredar. Kepala busung makrosefalik dan kaki pitut itu cukup sebagai prasasti yang dapat kubaca untuk menjelaskan betapa keras dan tidak mulus hidup Peter di masa lalunya. “Waktu saya lahir, Ibu Bapa saya menganggap saya tak akan hidup lama,” katanya pula. Serta merta kami semua lebih memilih sikap berdiam diri agar tidak membuat luka di hatinya bertambah parah. Husshhh, ada setan lewat (beberapa waktu berlalu dalam hening tanpa ada satu orang di antara kami berbicara; semua orang diam mematung).

Kemudian, untuk sekedar mengisi kekosongan yang ditinggalkan olok-olok atasnya, Peter bernyanyi. Lagi-lagi kawan Melayu itu berkelakar memberi komentar, “Jangan pula kau menyanyi lagu India. Kami tak faham ertinya. Siapa tahu kau menyindir kami. Kau bilang ‘Satu Melayu duduk-duduk melamun. Dua Indon jahit pakaian,’’” Dan Peter cuma pause sejenak untuk kemudian bersenandung kembali.

* * *

Ceritera dan Cengkerama Orang Tahanan

Ceritera dan Cengkerama Orang Tahanan

Laksana ayam pedaging yang menunggu masa penyembelihan, sepanjang hari kerja kami cuma makan minum, duduk, berbaring tiduran, kongko-kongko berbagi cerita sebagai perintang waktu. Tepos pantatku. Ada cerita bermakna dan ada bualan remeh-temeh kosong semata. Dari diskusi, terkadang aku harus mendengar dengan hati agar lahir solusi. Berdiskusi dan berbagi berita di antara orang tahanan itu juga perlu untuk meluaskan pandangan tentang dunia. Selaku tahanan yang masih punya sedikit semangat, kami memang harus berjuang keras menjaga stabilitas dan stamina batin untuk tidak terlalu tenggelam memikirkan situasi tak nyaman yang kami hadapi selama berada dalam penjara.

Tak jarang, meski bertajuk diskusi, beberapa panelis lebih suka tampil menonjol dan maunya menang sendiri, sehingga mereka kerap saling berbantah ketika terperangkap dalam diskusi yang tiada berujung pangkal. Sementara itu, obrolan-obrolan kosong yang tak bermakna hanyalah salah satu cara kami melewatkan waktu tak berguna. Kadang-kadang aku juga merasa bagai dirintang siamang berbual; asyik memandang dan mendengar sesuatu yang tiada berguna, memboroskan waktu dalam kesia-siaan.

Orang tahanan tahu cara mengasah kemampuan otak. Kadang-kadang terlintas dalam benakku, kesibukan otak orang tahanan melampaui pemikiran apa pun yang lazim direnungkan oleh manusia rata-rata. Orang tutupan melewatkan bagian terpanjang masanya dengan bermenung, berpikir, berdiskusi, curah gagasan, main kartu, main dam, main catur, sampai mengutak-atik teka-teki. Anda yang hidup di alam bebas boleh jadi terkejut ketika membaca berita dari penjara seperti ini: Filsafat Tak Akan Pernah Mati. Ketika berdiskusi, misalnya, tahanan kerap saling mengingatkan. “Kita ambil hikmahnya. Tuhan telah menetapkan jalan terbaik untuk kita. Jika kita di luar dan Polis tak tangkap kita, boleh jadi seseorang yang membenci dan mendendam telah menyerang dan membunuh kita,” ujar si A.

“Bersyukurlah kita mengalami ini. Dengan pengalaman ini, kita menjadi tahu betapa susahnya kehidupan penjara dan kita dapat mencegah anak-anak dan anggota keluarga kita yang lain untuk tidak masuk ke sini. Kehidupan di sini pahit. Jika suatu saat kelak kita melihat anak-anak kita melenceng, kita dapat luruskan,” berkata si B.

“Berbeda halnya dengan orang baik-baik yang tak pernah masuk penjara. Mereka sangat keras terhadap anak-anak mereka. Bila-bila masa salah seorang anak mereka melenceng dan berbuat salah, mereka menghardik, memukul, dan bahkan mengusirnya. Keadaannya akan lebih buruk. Anak itu kelak akan jadi penjahat sebenar,” kata si C.

“Kita tidak. Kita faham seni mendidik, karena kita memang pernah mengalami pahit getir di sini,” kembali si A angkat bicara.

Dalam pada itu, waktu muster acap berguna bagi beberapa orang tahanan untuk berkonsultasi. Salah seorang tahanan yang memanfaatkan kesempatan berbincang-bincang di sela-sela muster adalah seorang etnis Melayu yang biasa duduk di dekat pojok baratdaya. Saat itu terlihat ia berbincang serius minta pandangan lurah terhadap kejadian-kejadian aneh yang menghantui tidurnya. Masa tidur adalah masa yang tak pernah nyaman baginya. Waktu tidur adalah waktu yang sangat tidak disukainya. Dalam tidur ia kerap mengigau dan menjerit dengan suara berat tertahan.

“Saya bermimpi ada suara-suara yang mengatakan bahwa untuk kes saya, saya diganjar dengan hukuman gantung.”

“Lawan suara-suara buruk itu,” memberi saran lurah kepadanya, “Saya bukan Muslim. Tapi saya anjurkan Anda untuk bersembahyang shalat,” berkata lurah melanjutkan ucapannya.

“Insya Allah.”

* * *

Reog Ponorogo, Khasanah Seni Budaya Melayu

Disamping Jawa Indonesia, banyak juga penghuni lokap Dewan-B merupakan Jawa Melayu; yaitu etnis Jawa berkewarganegaraan Malaysia. Mereka masih terhitung lumayan lancar berbahasa Jawa. Beberapa Jawa Melayu kerap merapat denganku. Meski terlahir sebagai generasi baru dengan status kewarganegaraan Malaysia, tetap saja mereka menyimpan sesuatu rasa keingintahuan mereka terhadap Tanah Jawa; asal usul leluhurnya. Ada yang datang menghampiriku hanya untuk sekedar menguji dan mengasah kepiawaian berbicara. Ada yang bertanya tentang bagaimana rupa Tanah Jawa dan kehidupan sosial ekonomi dan budaya masyarakatnya. Bahkan ada yang mengutarakan niatnya untuk dapat berkunjung ke pulau Jawa. Beberapa orang tercengang ketika kuberitahu bahwa di pulau Jawa sendiri bahasanya rupa-rupa.

Dalam beberapa hal, Cina dan Jawa punya persamaan. Sebagaimana halnya orang-orang Cina yang bangga akan identitas leluhurnya, demikianlah orang Jawa. Pergi merantau dan bermukim di manapun, masyarakat Jawa selalu membawa serta bahasa dan budaya. Dalam keseharian, masyarakat Jawa berbicara bahasa Jawa dalam komunitasnya. Satu bukti untuk menunjukkan betapa warna Jawa telah menjadi bagian yang melekat pada bangunan Negara Malaysia adalah dimasukkannya Reog Ponorogo sebagai kekayaan khasanah seni budaya dalam ruang hidup bangsa Melayu. Tentu Melayu yang mereka maksudkan adalah Malaysia. Tak urung, pengakuan itu sempat membuat sewot orang Jawa yang tinggal di Indonesia. Yang bukan Jawa pun ikut-ikutan merasa kebakaran jenggot karena alasan nasionalisme.

* * *